Sabtu, 08 Januari 2011

MENGAJARKAN ALKITAB SECARA KREATIF


 I.  Alkitab yang Kita Ajarkan
            Banyak hal yang tejadi di sekitar kita dalam kehidupan orang Kristen khususnya di Gereja. Banyak orang-orang yang mengenal isi Alkitab, tetapi tingkah lakunya tidak sesuai dengan ajaran Alkitab. Mengapa hal ini terjadi? Banyak orang yang mengaku percaya kepada Kristus, percaya kepada Alkitab, belajar Alkitab tetapi tampaknya Alkitab yang mereka pelajari itu tidak mengubah kehidupan mereka. Apakah sebenarnya Alkitab itu?
            Dalam menjawab hal-hal di atas terlebih dahulu kita mempelajari berbagai pandangan tentang Kitab Suci.
  1. Pandangan golongan konservatif, mengakui bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang tertulis dan yang berkuasa yang dinyatakan kepada manusia oleh Allah. Allah bekerja melalui manusia.
  2. Golongan liberal lama memandang Alkitab sebagai pengalaman manusia di masa lampau saja. Alkitab itu tidak diperlukan karena kita dapat mencari Allah, bukan dari peristiwa-peristiwa di masa lampau tetapi pada peristiwa-peristiwa masa sekarang. Alkitab bukan sumber kebenaran. Karena itu yang menjadi pusat perhatian ialah pengalaman-pengalaman hidup sehari-hari karena di situlah kita dapat menjumpai Allah dan mendapati bahwa kehidupan ini berarti.
  3. Golongan Neo Orthodoks menetang pandangan golongan liberal dengan mengatakan bahwa kita tidak dapat secara otomatis mengenal Allah. Mereka percaya  bahwa pernyataan Allah disalurkan melalui Alkitab dan dengan demikian Alkitab mempunyai fungsi yang penting dalam pendidikan Kristen. Dalam hal ini pandangan neo orthodoks ini mengarahkan kita pada sifat dan hakekat Alkitab.  Hal ini menyebabkan dikembangkannya suatu teori baru mengenai sifat atau hakekat Alkitab dan maksud dari Kitab suci yang besar pengaruhnya dalam pendidikan Kristen zaman ini. Teori didasarkan atas suatu konsep tertentu mengenai apa pernyataan Allah atau wahyu Allah itu, apa peranan Alkitab dalam pernyataan itu dan bagaimana Alkitab harus diajarkan (Oleh karena itu kemungkinan Alkitab tidak efektif ialah karena kita belum mengerti bagaimana cara mengajarkannya dengan baik. Kesalahan ialah pada guru sendiri. Alkitab itu diajarkan dengan salah. Oleh karena itu kita perlu mengetahui cara Allah menggunakan firman-Nya itu sebelum kita berani mengajarkannya kepada orang lain).      
  4. Sementara itu pandangan kontemporer memandang Alkitab bukanlah pernyataan Allah. Pernyataan Allah adalah suatu pengalaman pribadi dengan Allah. Alkitab hanyalah buku yang berisikan catatan tentang penyataan terhadap Allah. Dengan demikian maka Alkitab harus diajarkan supaya mereka yang mempelajarinya dapat bertemu dengan Allah dan bukan supaya mereka mendapat informasi tentang Allah.

            Dalam buku ini, Lawrence O. Richards mengatakan bahwa Alkitab adalah firman Allah yang dinyatakan dengan kata-kata Allah. Allah menyampaikan kebenaran-Nya dengan menggunakan kata-kata dan kebenaran ini harus disampaikan dan dimengerti sebagai informasi dari Allah. Tetapi Alkitab itu lebih dari sekedar kata-kata saja. Alkitab itu dipakai Allah sebagai alat penghubung antara Dia dengan manusia. Allah sendiri mengkonfrontasikan kita dengan kebenaran tentang dirinya sendiri. Apabila kita memerlukan Alkitab dan membacanya, kita bukan saja mendapat informasi dari Alkitab melainkan kita berkonfrontasi langsung dengan Dia.
            Jadi cara kita mengajarkan Alkitab hareus sesuai dengan sifat Alkitab dan dengan cara Allah menggunakan firman-Nya itu dalam kehidupan kita. Apabila kita sudah dapat melihat dengan jelas mengenai bagaimana Allah menjumpai kita di dalam Alkitab, dan bagaimana kebenaran-kebenaran firman-Nya itu menuntut agar kita memberi respon kepada Dia, maka akan terlihat pedoman atau petunjuk untuk mengajarkan Alkitab secara efektif, diantaranya ialah :
  1. Kita mengajarkan apa yang terdapat dalam Alkitab.
  2. Sasaran kita ialah agar para murid secara pribadi mengenal Allah.
  3. Fokus kita adalah pada respons.

II.   Mengajarkan Alkitab Secara Kreatif

            Kreatif adalah sebuah kata yang membangkitkan semangat. Mengajar secara kreatif berarti dengan sengaja atau secara sadar dan efektif memusatkan perhatian pada aktifitas-aktifitas belajar yang dapat meningkatkan tahap belajar para pelajar. Mengajarkan Alkitab secara kreatif berarti mengajarkan Alkitab dengan cara  yang dapat menyebabkan belajar itu mencapai tahap yang berarti yaitu tahap mengucapkan kembali, tahap menghubungkan dan tahap merealisasi. Untuk mencapai hal ini seorang guru harus:
q  Memusatkan perhatian para murid kepada arti atau makna yang terdapat di balik kebenaran Alkitab yang diajarkan.
q  Melibatkan para murid agar ikut aktif mencari makna pelajaran itu.
q  Merangsang dan membimbing para murid dalam proses mencari makna atau makna dari pelajaran itu.

            Pola pelajaran yang digunakan untuk mengajar Alkitab secara kreatif ialah pelajaran itu disusun agar para murid mengerti ayat-ayat itu, kemudian mencari implikasinya dan akhirnya menolong mereka untuk memberi respons yang berdasarkan kasih yang tepat secara pribadi. Tetapi pada saat kita mengajar kita tidak boleh hanya mempercayakan diri pada pola pengajaran, melainkan kita harus mempercayakan diri kita kepada Allah.
            Untuk mendapat respons yang positif, guru harus menolong murid-muridnya melihat bagaimana mereka dapat menggunakan prinsip itu di dalam kehidupan mereka atau menerapkannya. Penerapan itu harus cukup fleksibel agar dapat mencakup semua orang tapi cukup bersifat pribadi agar dapat menyentuh setiap bidang kehidupan dan setiap pribadi itu. Syarat mutlak penerapan yang efektif ialah :
-  Kebenaran Allah harus dihunungkan dengan kehidupan pribadi.
-  Bidang-bidang yang relevan harus dicari.
            Demikianlah guru hendaknya terampil dalam mengajar dan dalam melatih anggota-anggota kelasnya agar mereka secara aktif berpartisipasi  dalam proses pengajaran yang kreatif. Tetapi itu baru sebagian dari penyelesaian. Masalah yang dasar adalah motivasi para murid yang mutlak diperlukan ialah keinginan untuk turut ambil bagian dan kemampuan untuk belajar. Hal pertama untuk membangun motivasi ialah hubungan antara guru dan murid. Guru ikut terlibat dalam kehidupan para murid. Guru juga hendaknya mengajar dengan sikap sebagai orang seiman yang sama-sama sedang belajar. Selain itu guru juga hendaknya memperhatikan faktor-faktor struktural yang membangun motivasi yaitu unsur-unsur yang dipakai untuk membentuk pelajaran. Dapat dikatakan ada 4 faktor-faktor tersebut, yaitu :
  1. Orang dapat belajar dengan baik sekali apabila pelajarannya disusun menurut pola tertentu. Artinya para murid mengetahui apa yang menjadi sasaran pelajarannya dan mereka dapat melihat kemajuan yang diperoleh untuk mencapai sasaran itu.
  2. Orang dapat belajar dengan baik sekali apabila mereka dapat melihat hubungan pelajaran itu dengan diri mereka.
  3. Orang dapat belajar dengan baik sekali jikalau mereka merasa dapat menguasai isi pelajaran. Hal ini akan merangsang mereka untuk lebih banyak belajar.
  4. Orang dapat belajar dengan lebih baik jikalau mereka melihat hasilnya atau manfaatnya dalam kehidupan mereka. Murid mendapati bahwa kebenaran Alkitab yang dipelajarinya di kelas itu dapat menolong dia untuk hidup dengan berhasil sebagai seorang Kristen.
5.      Akhirnya dalam pengajaran diperlukan suatu perencanaan pelajaran yang menyeluruh yang disusun secara terakhir untuk tiap-tiap kelompok umur yaitu menggunakan kurikulum yang baik yang mempunyai filsafat tertentu mengenai pengajaran Alkitab dan filsafat ini secara teliti diterapkan dalam penulisan setiap seri pelajaran. Kurikulum-kurikulum karena hal itu dapat mengekang kebebasan dan menantikan spontanitas sebagai kesimpulan petunjuk untuk mengajarkan Alkitab secara kreatif direncanakan untuk  meluluskan secara terperinci aktifitas belajar yang sesuai untuk berbagai kelompok umur serta berbagai tujuannya dan untuk menolong guru agar mereka percaya bahwa mereka sanggup mengajar secara spontan dan secara kreatif.

III.   Petunjuk Untuk Mengajarkan Alkitab Secara Kreatif

a.      Alkitab dan Anak-anak Prasekolah

            Pada umumnya para penulis kurikulum sekolah Minggu tidak tahu bagaimana harus mengajarkan Alkitab kepada anak-anak prasekolah. Pada umumnya orang menganggap bahwa anak yang sekecil itu belum perlu belajar tentang Allah tetapi secara emosi mereka memang perlu berkembang. Namun ternyata pendapat ini salah karena kita tidak boleh mengabaikan firman dan kata-kata Allah. Ia harus diterangkan dengan sederhana dan dalam bahasa anak-anak supaya dapat dimengerti oleh anak-anak kecil itu. Anak-anak selama masa prasekolah sudah terlibat dalam proses untuk membentuk seatu pandangan mengenai dunia ini. Jadi tugas utama dari seorang guru yang mengajar anak-anak prasekolah adalah untuk memberikan konsep-konsep dasar dan informasi yang diperlukan oleh anak-anak itu agar mereka dapat merumuskan pandangan yang bersifat Alkitabiah mengenai dunia ini. Anak-anak prasekolah perlu mengetahui siapakah Allah itu. Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu dilakukan guru agar hal itu dapat dipraktekkan oleh si anak prasekolah yaitu:


  1. Isi Alkitab harus diajarkan yaitu memberitahukan siapa Allah
  2. Anjurkanlah agar anak memberi respons
  3. Alkitab harus diajarkan secara efektif yaitu sesuai dengan tahap pengertian anak.

b.      Mengajar Anak-anak

            Beberapa faktor yang harus diperhatikan oleh seorang guru yang mengajarkan Alkitab kepada anak-anak adalah :
  1. Ajaran harus menyangkut apa yang diperlukan anak-anak dan apa yang sedang dialami anak-anak
  2. Ajaran itu harus sesuai dengan asas firman Allah
  3. Ajaran itu harus membuat agar pernyataan Allah relevan untuk anak-anak dan sesuai dengan tahap pengertiannya.

            Untuk mengajarkan Alkitab kepada anak-anak kita harus memenuhi 2 syarat yang akan menolong anak-anak mengerti apa yang sedang dialami anak-anak
§  Pastikanlah bahwa apa yang kita ajarkan itu benar-benar apa yang dikatakan Allah.
§  Ciptakanlah proses belajar mengajar yang kreatif.

c.         Mengajar Pemuda-Pemudi dan Orang Dewasa

            Pemuda, pemudi dan orang dewasa dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh anak-anak, dapat mengerti dan memberi respons terhadap panggilan Allah yang dinyatakan di dalam FirmanNya. Pada anak remaja dan orang dewasa, sasaran yang ditentukan guru dapat sepenuhnya diwujudkan yaitu untuk merengasang agar terjadi hubungan timbal-balik yang mendalam dan secara pribadi antara firman Allah dan mereka. Para murid yang sudah mulai dewasa secara rohani dapat dijadikan teman yang sepadan di dalam pengalaman belajar ini dan para murid sedemikian dapat sepenuhnya menyelami  makna dari firman itu bagi diri pribadi mereka serta membuat respon yang sempurna kepada Allah yang mengatakan, "Taatilah FirmaKu". Tugas gurulah untuk membina persekutuan yang bertanggung jawab dan responsif antara murid dan Allah melalui firmanNya.
            Bagi golongan Injili pengajar adalah mengajarkan isi Alkitab. Dengan demikian penyampaian isi Alkitab merupakan pusat dan sering kali memegang peranan utama dalam sepanjang jam pelajaran.  Hal menyampaikan isi Alkitab itu dipandang sebagai hal yang dasar.  Kita bertemu dengan Allah dalam FirmanNya. Di dalam firmanNya itulah yang menyatakan kebenaran dan menyatakan diriNya sendiri kepada kita. Jadi firman itu penting untuk diajarkan dan perkataan kitab suci itu ditafsirkan dengan benar dan dimengerti dengan baik.
            Namun seorang guru tidak bisa beranggapan bahwa ia sendiri sajalah yang harus berbicara untuk menyampaikan isi Alkitab. Sebaiknya guru tidak berkhotbah sepanjang jam pelajaran. Isi Alkitab dapat disampaikan secara kreatif. Guru dapat mendorong agar setiap peserta kelas merasa bertanggung jawab untuk mempelajari sendiri Alkitabnya. Guru dapat mendorong agar setiap peserta kelas merasa bertanggung untuk mempelajari sendiri Alkitabnya. Guru juga dapat membuat agar penyelidikan Alkitab itu merupakan proses belajar Alkitab bersama ikut aktif.
            Jika pemuda-pemudi dan orang dewasa berkumpul bersama-sama untuk mempelajari Alkitab hendaklah mereka membuka hati dan membiarkan terang firman Tuhan untuk menerangi kehidupan mereka. Firman Allah harus menerangi kehidupan mereka. Firman Allah harus menerangi setiap hubungan dan setiap aktifitas diantara sesama kita. Kita harus secara pribadi berusaha mengetahui apa artinya mematuhi perintah-perintah Allah. Kita harus meminta Kristus untuk masuk kedalam  hati kita agar Ia mengendalikan setiap segi kehidupan kita. Kita harus menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja (Yak. 1:22).
            Supaya firman itu dapat meresap ke dalam pengalaman hidup kita sehari-hari, kita harus membukakan kehidupan kita untuk menerima  firman itu. Kita harus mengenal keadaan diri kita sendiri dan kemudian dengan sadar memeriksa apakah yang kita lakukan dan alami itu sesuai dengan kehendak Allah bagi kita atau tidak. Kita harus membukakan kehidupan kita dihadapan Allah dan kita harus jujur terhadap Allah dan terhadap diri kita sendiri. Dan yang harus lebih jelas terlihat ialah kita harus dengan jujur saling membuka diri kita serta bersedia memerintahkan bukan saja pengalaman kita dengan Kristus, tetapi juga menceritakan kebutuhan dan kegagalan kita. Dengan hal ini kita membimbing para peserta kelas kepada pengertian yang lebih dalam.
            Kita masing-masing harus memberi respons kepada Allah sesuai dengan pimpinan Roh Kudus kepada kita. Perintah Allah untuk bersaksi yang ditujukan kepada kita semua mungkin akan dipakai oleh Allah untuk mendorong kita menyaksikan kasih karunia Tuhan kepada kita yang akhirnya akan mendorong kita untuk mengadakan suatu kelompok pengajaran Alkitab bersama dan untuk mendorong kita sendiri menjadi utusan Injil keluar negeri.
            Setiap orang lain dari yang lain, kita masing-masing memiliki keunikan dan kepribadian sendiri. Kita masing-masing mempunyai kesempatan yang berbeda dalam pergaulan kita, bahkan persahabatan dan pengalaman kita pun berbeda-beda juga. Dalam hal itu hanya Yesus Kristus sajalah yang menjadi Tuhan di dalam kehidupan kita dan yang menjadi kepala jemaat yang am, yang berhak untuk memimpin kita melalui firmanNya agar kita sampai pada kehendakNya yang sempurna bagi setiap pribadi. Memang firmanNya hanya satu, tapi kesempatan kita untuk memberi respons kepadaNya tidak terbatas.
            Kita harus mengajarkan firman Tuhan dengan berani dan penuh semangat, kreatif dan selalu menyadari Alkitab itu adalah perkataan Allah. Berusahalah sekuat tenaga  agar terampil dalam membimbing para murid sehingga mereka dapat memberi respon kepada Allah. Setelah itu tunduklah dan serahkanlah semua usaha anda itu kepada Allah dan kebergantungan mutlak kepada Roh Kudus karena hanya Dialah yang benar-benar dapat mengajarkan firman Allah itu.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar